Rumble In The Buffet
Hari ini gw baru balik dari makan bareng Diva n Dhany. Restoran yang sial dapet tamu barbar kaya qta kali ini adalah Hanamasa, restoran Jepun yang ngebebasin tamunya makan seeneg-enegnya. Qta nyampe di sana jam 2an, abis nganter ibunya Diva ketemuan ma sodara2nya di Ciwalk.
Well, sejujurnya gw belon pernah makan buffet. Diva juga. Untungnya mas Dhany bersedia menjadi pembimbing dan pembina untuk mencegah hal-hal ga penting yang bisa terjadi akibat kekuperan qta berdua. Prinsipnya penting untuk diingat, mungkin ada di antara kalian yang sesama BB (Buta Buffet, bukan Bau Badan), sehingga dapat terbantu terhindar dari tatapan mengkampungkan dari orang2 sekitar. Prinsip ini mungkin dapat berlaku di restoran buffet lainnya, tapi akan lebih pas jika diterapkan di Hanamasa.
Prinsipnya mudah saja, DMB, Duduk-Makan-Bayar. Duduk di tempat yang telah disediakan. Setelah itu pelayan akan datang menawarkan diri untuk menyalakan kompor dan menanyakan menu buffet yang akan diambil. Ingat, jangan tanya ! Hal itu akan menjatuhkan kredibilitas anda sebagai pelanggan berkelas. Saat ini yang harus dilakukan hanyalah memasang senyum yang paling manis sebagai ucapan terima kasih atas bantuan yang telah diberikannya. Jawaban yang tidak anda berikan akan memberikan kesimpulan pada pelayan bahwa anda akan mengambil menu lengkap. Segera setelahnya, pelayan akan mempersilakan anda untuk mengambil bahan-bahan makanan yang akan dimasak. Kembali ingat, jangan tanya di mana kita harus mengambilnya, karena jika anda nekat, anda bisa dicurigai mengidap Belekngitis stadium lanjut. Semua bahan biasanya tersedia di dekat meja anda. Khusus di Hanamasa (dan mungkin juga restoran buffet Jepang lainnya) bahan2 makanan terbagi menjadi 2 kelompok besar, Yakiniku dan Shabu-Shabu. Keduanya dipastikan bukan merek dagang dari beberapa suplemen diskotik. Yakiniku biasanya dipanggang dan Shabu2 direbus, tapi sebagai pelanggan, tidak ada larangan tertulis untuk melakukan hal yang sebaliknya. Siapa tahu anda seperti saya, penikmat Tofu Bakar, betul ? Ingat, ambil semua yang anda mau, habiskan semua yang anda ambil. Setelah anda puas dengan pilihan anda, silakan masak (atau tidak) makanan yang akan anda santap. Ada sensasi tersendiri saat mempersiapkan makanan secara mandiri kemudian menyantapnya. Tidak setiap hari kita dapat makan Ikan Bakar Hitam dan Sapi Setengah Matang kan ? Selesai ? Silakan menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran. Simpel ? Dengan beberapa langkah mudah di atas, anda tidak akan perlu menanggung malu ketika berkunjung ke restoran buffet untuk pertama kalinya.
Kembali ke cerita, gw, Diva n Dhany mulai melakukan perburuan di meja bahan makanan. Target pertama, Yakiniku. Buat gw n Dhany yang rajin ke gym, ini kesempatan emas buat ngegasak semua sumber protein. Dari yang macem2, qta ngebabat dua yang utama, Tuna dan Marlin. Well, sebenulnya sih eike kaga tau kalo itu Tono apa Marlina, tapi yang pasti mah bukan Gurame ato Mujaer, yuk..
Singkat cerita (karena kepanjangan kalo diceritain semua kronologis dari kriminalitas yang qta lakonin), piring pertama abis dengan sukses. Percaya diri dengan kemampuan perut, gw n Dhany masuk ronde 2, masih Yakiniku. Sekarang ditambah sedikit Robotanyaki (bener ga sih ?), yaitu makanan2 yang bisa qta pilih n minta tolong dibakarin ma pelayannya. Saat itu, gw baru nyadar kalo gw telah meremehkan makhluk bernama Dhany. Di balik tubuh ramping yang mulai berotot, ternyata anak ini menyimpan nafsu (makan) yang membara. Gw ampir yakin kalo dia punya peliharaan di lambung n usus yang harus dikenyangkan sebelum dia mulai ngerasa ada makanan di perutnya..(hehehe, becanda Dhan. Piss..piss..) Pokonya, gw n Diva udah tinggal separuh napas buat ngabisin porsi kedua inih. Sementara Dhany, dengan muka ceria, "mo ngambil Shabu-Shabu sekarang ?" Tobaaaatt..!!
Untungnya gw kelupaan bawa duit (loh ?), jadi gw n Diva bisa menyepi sesaat dari meja makan. Lumayan kardio bentar, jalan ke Superindo di sebelah buat ngambil ATM. Balik2, qta kembali dengan langkah mantap dan perut yang ... tidak berubah. Dhany dengan sangat baik hati, udah masukin bahan2 Shabu ke dalem panci rebusan. Ronde 3.
Akhirnya qta menyerah di tengah jalan. Dhany juga udah mulai kepayahan. Tapi masih ada satu ronde menunggu, dessert. Gw n Diva milih es krim, yang udah dipesenin tempat khusus di pojok perut. Dhany milih rujak. Rujak ? Jauh2 dateng ke kota, makan di Dago, buat rujak ? Weizz, jangan salah, di sini bahkan ada Lupis, Klepon n Singkong. Curiga, untuk persiapan kalo ada pelanggan yang bawa rekan dari pedalaman.. Eniwei, gw ternyata kekenyangan juga, so es krim gw tercinta dibabat oleh Dhany, lagi. Akhirnya setelah 4 jam, qta sudah merasa membuat pihak manajemen restoran merugi, jadi qta balik ke alam masing2..
Well, that's all folks !
Well, sejujurnya gw belon pernah makan buffet. Diva juga. Untungnya mas Dhany bersedia menjadi pembimbing dan pembina untuk mencegah hal-hal ga penting yang bisa terjadi akibat kekuperan qta berdua. Prinsipnya penting untuk diingat, mungkin ada di antara kalian yang sesama BB (Buta Buffet, bukan Bau Badan), sehingga dapat terbantu terhindar dari tatapan mengkampungkan dari orang2 sekitar. Prinsip ini mungkin dapat berlaku di restoran buffet lainnya, tapi akan lebih pas jika diterapkan di Hanamasa.
Prinsipnya mudah saja, DMB, Duduk-Makan-Bayar. Duduk di tempat yang telah disediakan. Setelah itu pelayan akan datang menawarkan diri untuk menyalakan kompor dan menanyakan menu buffet yang akan diambil. Ingat, jangan tanya ! Hal itu akan menjatuhkan kredibilitas anda sebagai pelanggan berkelas. Saat ini yang harus dilakukan hanyalah memasang senyum yang paling manis sebagai ucapan terima kasih atas bantuan yang telah diberikannya. Jawaban yang tidak anda berikan akan memberikan kesimpulan pada pelayan bahwa anda akan mengambil menu lengkap. Segera setelahnya, pelayan akan mempersilakan anda untuk mengambil bahan-bahan makanan yang akan dimasak. Kembali ingat, jangan tanya di mana kita harus mengambilnya, karena jika anda nekat, anda bisa dicurigai mengidap Belekngitis stadium lanjut. Semua bahan biasanya tersedia di dekat meja anda. Khusus di Hanamasa (dan mungkin juga restoran buffet Jepang lainnya) bahan2 makanan terbagi menjadi 2 kelompok besar, Yakiniku dan Shabu-Shabu. Keduanya dipastikan bukan merek dagang dari beberapa suplemen diskotik. Yakiniku biasanya dipanggang dan Shabu2 direbus, tapi sebagai pelanggan, tidak ada larangan tertulis untuk melakukan hal yang sebaliknya. Siapa tahu anda seperti saya, penikmat Tofu Bakar, betul ? Ingat, ambil semua yang anda mau, habiskan semua yang anda ambil. Setelah anda puas dengan pilihan anda, silakan masak (atau tidak) makanan yang akan anda santap. Ada sensasi tersendiri saat mempersiapkan makanan secara mandiri kemudian menyantapnya. Tidak setiap hari kita dapat makan Ikan Bakar Hitam dan Sapi Setengah Matang kan ? Selesai ? Silakan menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran. Simpel ? Dengan beberapa langkah mudah di atas, anda tidak akan perlu menanggung malu ketika berkunjung ke restoran buffet untuk pertama kalinya.
Kembali ke cerita, gw, Diva n Dhany mulai melakukan perburuan di meja bahan makanan. Target pertama, Yakiniku. Buat gw n Dhany yang rajin ke gym, ini kesempatan emas buat ngegasak semua sumber protein. Dari yang macem2, qta ngebabat dua yang utama, Tuna dan Marlin. Well, sebenulnya sih eike kaga tau kalo itu Tono apa Marlina, tapi yang pasti mah bukan Gurame ato Mujaer, yuk..
Singkat cerita (karena kepanjangan kalo diceritain semua kronologis dari kriminalitas yang qta lakonin), piring pertama abis dengan sukses. Percaya diri dengan kemampuan perut, gw n Dhany masuk ronde 2, masih Yakiniku. Sekarang ditambah sedikit Robotanyaki (bener ga sih ?), yaitu makanan2 yang bisa qta pilih n minta tolong dibakarin ma pelayannya. Saat itu, gw baru nyadar kalo gw telah meremehkan makhluk bernama Dhany. Di balik tubuh ramping yang mulai berotot, ternyata anak ini menyimpan nafsu (makan) yang membara. Gw ampir yakin kalo dia punya peliharaan di lambung n usus yang harus dikenyangkan sebelum dia mulai ngerasa ada makanan di perutnya..(hehehe, becanda Dhan. Piss..piss..) Pokonya, gw n Diva udah tinggal separuh napas buat ngabisin porsi kedua inih. Sementara Dhany, dengan muka ceria, "mo ngambil Shabu-Shabu sekarang ?" Tobaaaatt..!!
Untungnya gw kelupaan bawa duit (loh ?), jadi gw n Diva bisa menyepi sesaat dari meja makan. Lumayan kardio bentar, jalan ke Superindo di sebelah buat ngambil ATM. Balik2, qta kembali dengan langkah mantap dan perut yang ... tidak berubah. Dhany dengan sangat baik hati, udah masukin bahan2 Shabu ke dalem panci rebusan. Ronde 3.
Akhirnya qta menyerah di tengah jalan. Dhany juga udah mulai kepayahan. Tapi masih ada satu ronde menunggu, dessert. Gw n Diva milih es krim, yang udah dipesenin tempat khusus di pojok perut. Dhany milih rujak. Rujak ? Jauh2 dateng ke kota, makan di Dago, buat rujak ? Weizz, jangan salah, di sini bahkan ada Lupis, Klepon n Singkong. Curiga, untuk persiapan kalo ada pelanggan yang bawa rekan dari pedalaman.. Eniwei, gw ternyata kekenyangan juga, so es krim gw tercinta dibabat oleh Dhany, lagi. Akhirnya setelah 4 jam, qta sudah merasa membuat pihak manajemen restoran merugi, jadi qta balik ke alam masing2..
Well, that's all folks !
