Divine Madness
Depok geger. Seorang wanita bernama Sumanti (sebut saja begitu), diduga kuat telah memakan anaknya sendiri.
Sumanti yang diyakini menderita gangguan jiwa berat digelandang ke kantor polisi setempat. Tapi ketika memberikan keterangan, yang bersangkutan tidak menunjukkan tanda2 gangguan, karena seluruh pertanyaan dijawab dengan lancar. Seperti ketika ditanya asal daerahnya, ia mengaku berasal dari Kebumen. Dan ketika ditanya apa yang ia lakukan pada anaknya, ia mengaku telah membakar dan memakannya. Terlepas dari kejujuran jawaban, tidak ada halangan berarti yang ditemukan polisi saat menginterogasi, tidak seperti lazimnya menghadapi seseorang yang gila, walau dalam kasus ini kita semua setuju kalo perempuan ini benar2 sakit jiwa. Apalagi bukti dan saksi turut berbicara.
Beberapa saksi menyatakan bahwa, Selasa (21/11), mereka melihat Sumanti tengah merangkak di sekitar trotoar rumahnya dalam keadaan telanjang, dan darah yang terus keluar dari rahim. Warga sekitar kemudian menghalaunya, tapi kemudian membantunya kembali ke rumah kosong yang telah ia tempati sejak beberapa tahun yang lalu. Ironisnya, lokasi rumah itu terletak persis di seberang kantor Sub Direktorat Satwa Polri, Cimanggis.
Di dalam rumah, warga menemukan ceceran air ketuban yang membusuk. Mereka berpendapat, wanita yang beberapa saat yang lalu tengah hamil tua ini telah melahirkan tanpa bantuan siapa pun. Tapi mereka terkejut ketika mendapati beberapa potong tulang kecil dan sebuah tulang yang diyakini sebagai tulang tempurung kepala bayi yang teronggok di sebelah sisa nasi padang dan sebuah tungku. Sementara, masih di sekitar tempat itu, ditemukan pula jenazah bayi yang hanya menyisakan bagian pinggul ke bawah. Mereka pun meminta aparat kepolisian turut bertindak.
Warga tidak ada yang mengetahui siapa ayah bayi tersebut, karena Sumanti sendiri bukan seseorang yang akrab dengan warga sekitar. Sebaliknya, ia sangat galak dan kerap meneriaki siapa saja yang membuang sampah di TPS yang kebetulan berada di samping rumahnya. Ahli psikologi yang dimintai bantuan menyatakan bahwa Sumanti benar2 mengalami gangguan kejiwaan berat, tidak sekedar stress. Apa yang dilakukannya bisa jadi karena perilaku umum akibat memiliki anak di luar nikah, misalnya karena malu. Tapi karena anak yang dilahirkan juga dimakan, "Ini sudah mengarah ke psychosis, di mana penderita telah putus dengan realitas, sehingga pemikirannya pun telah di luar realitas, tidak dapat dipahami."
Na'udzubillah..
Sumanti yang diyakini menderita gangguan jiwa berat digelandang ke kantor polisi setempat. Tapi ketika memberikan keterangan, yang bersangkutan tidak menunjukkan tanda2 gangguan, karena seluruh pertanyaan dijawab dengan lancar. Seperti ketika ditanya asal daerahnya, ia mengaku berasal dari Kebumen. Dan ketika ditanya apa yang ia lakukan pada anaknya, ia mengaku telah membakar dan memakannya. Terlepas dari kejujuran jawaban, tidak ada halangan berarti yang ditemukan polisi saat menginterogasi, tidak seperti lazimnya menghadapi seseorang yang gila, walau dalam kasus ini kita semua setuju kalo perempuan ini benar2 sakit jiwa. Apalagi bukti dan saksi turut berbicara.
Beberapa saksi menyatakan bahwa, Selasa (21/11), mereka melihat Sumanti tengah merangkak di sekitar trotoar rumahnya dalam keadaan telanjang, dan darah yang terus keluar dari rahim. Warga sekitar kemudian menghalaunya, tapi kemudian membantunya kembali ke rumah kosong yang telah ia tempati sejak beberapa tahun yang lalu. Ironisnya, lokasi rumah itu terletak persis di seberang kantor Sub Direktorat Satwa Polri, Cimanggis.
Di dalam rumah, warga menemukan ceceran air ketuban yang membusuk. Mereka berpendapat, wanita yang beberapa saat yang lalu tengah hamil tua ini telah melahirkan tanpa bantuan siapa pun. Tapi mereka terkejut ketika mendapati beberapa potong tulang kecil dan sebuah tulang yang diyakini sebagai tulang tempurung kepala bayi yang teronggok di sebelah sisa nasi padang dan sebuah tungku. Sementara, masih di sekitar tempat itu, ditemukan pula jenazah bayi yang hanya menyisakan bagian pinggul ke bawah. Mereka pun meminta aparat kepolisian turut bertindak.
Warga tidak ada yang mengetahui siapa ayah bayi tersebut, karena Sumanti sendiri bukan seseorang yang akrab dengan warga sekitar. Sebaliknya, ia sangat galak dan kerap meneriaki siapa saja yang membuang sampah di TPS yang kebetulan berada di samping rumahnya. Ahli psikologi yang dimintai bantuan menyatakan bahwa Sumanti benar2 mengalami gangguan kejiwaan berat, tidak sekedar stress. Apa yang dilakukannya bisa jadi karena perilaku umum akibat memiliki anak di luar nikah, misalnya karena malu. Tapi karena anak yang dilahirkan juga dimakan, "Ini sudah mengarah ke psychosis, di mana penderita telah putus dengan realitas, sehingga pemikirannya pun telah di luar realitas, tidak dapat dipahami."
Na'udzubillah..
Labels: Everyday Story

0 Comments:
Post a Comment
<< Home