Rheind's Life Journal

Wednesday, October 25, 2006

A Grey Sunshine

Hari ini cerah, langit bersih tidak berawan, sementara surya mengurai lembut warna cakrawala. Hari ini adalah hari yang dinanti. Idul Fitri.


Dirimu telah kutunggu
setelah satu bulan ku bercumbu

Gw lebaran di Bekasi dengan keluarga Mama. Pagi ini qta semua berangkat bareng2 ke tempat shalat di lapangan tenis kompleks. Men tends to walk, but I'd like to drive these decent ladies, hehehe.. Nyampe di sana masih belum penuh, hampir kosong malah. Curiga udah pada Lebaran kemaren.. Tapi sebenernya mah wajar, lha nongol di sini sejam sebelum mulai, pantesan.

Eniwei, mendekati jam 7, akhirnya penuh juga. Mungkin karena dalem kompleks, orang2 jadi ga keburu2. Bahkan ada yang baru keluar rumah pas udah siap2 shalat. Lari2, pake hak tinggi, wow.. Cowo yang lari pake sarung di belakangnya ngegabrug..

Shalat Ied emang beda rasanya. Shalat berjamaah sama2 di tengah lapangan terbuka, di pagi yang (sampai saat ini) selalu cerah. Alhamdulillah.. Akhirnya, setelah shalat, imam shalat naik mimbar buat ngasi ceramah.

"Apa yang sudah kita lakukan Ramadhan ini ?!"

..... Pertanyaan yang biasa saja, sebetulnya. Hampir tiap tahun ditanyakan. Tapi entah kenapa, tahun ini pertanyaan yang sama terasa beda.


Suara hamba-Mu tidak mendayu
Tegas menghujam ke dasar kalbu


Dan khatib semakin lantang.
"... memangnya kita masih hidup esok hari ?! Bagaimana mau mengharapkan kita masih ada Ramadhan tahun depan ?!"


Aku datang padamu tanpa pakaian
Saat kau berlalu aku tetap telanjang

"... apakah mampu kita semua membayar jasa orang tua ? Ibu kita ..."


Ibu,
Demi mengecup diriku
Engkau meregang nyawa
Membayar dengan
darah
Dengan keletihan yang bertambah-tambah
And before I knew it, the clear sunshine turned grey.. n watery.

"... dan bagaimana pula dengan ayah ..."


Ayah,
Demi sesuap nafkah
Engkau rela menghambakan diri
Bahkan kau
tuli caci maki
Asalkan aku kenyang dalam buaian

"DURHAKA !!!!"

Ya Rabbi, Izinkan aku sempat berbakti

"... mengapa kita lupakan saudara sendiri ?!"

Saudaraku,
Saat kuregang silaturahmi
Engkau melangkah mendekati
Mengayun kaki
Bagimu, darahku tak lekang dibasuh waktu

"... apakah karena sudah hilang kepentingan, dengan mudah kita tinggalkan ?!"

Sahabatku,
Bahkan ketika jarak memisah hari
Dirimu tetap merapati hati
Bukan karena budi semata
Tapi karena cinta
Tuhanku, Sepanjang musim aku berpaling
Masihkah pantas bagiku
Merangkak
menuju pintu maaf-Mu ?
Amalku tak pernah cukup tergadaikan
Ampunan-Mu
yang jadi andalan

Tuhanku,
Mereka perhiasan dunia
Separuh nyawa
Jangan Engkau ambil mereka
Hingga sempat aku menawar khilaf dan dosa

Maaf tak merujuk bentuk
Tidak bersauh lisan
Ia berarti saat bisa
meraba
hati


0 Comments:

Post a Comment

<< Home